Sabtu, 04 Mei 2013

Ada dia dimataku....

pagi ini aku sangat senang, sangat senang. tahu kenapa? aku genap berusia 17 tahun. diusiaku yang sekarang,namaku Martha. aku mendapatkan banyak berkah dari Tuhan, mendapatkan rejeki yang berlebih dari Tuhan. aku sangat bersyukur. aku memiliki keluarga yang menyayangiku, memiliki teman yang baik dan selalu ada untukku, dan memiliki pacar yang sangat baik padaku. sudah sekitar setahun aku memiliki orang yang kusayang. tak pernah terfikir sebelumnya. karena memang aku tak pernah berfikir akan menjadi kekasihnya. dia yang sederhana dan sangat baik, membuatku tertarik dan menjadi menyukainya.
kini aku duduk dikelas 2 sebuah sekolah menengah atas. aku mendapatkan jurusan IPA. aku memiliki 5 orang sahabat yang sangat baik dan setia padaku. kemanapun kami selalu bersama. dari belajar bareng sampai shooping :) aku sangat senang memiliki mereka.
 pada suatu hari ketika aku hendak berangkat sekolah seperti biasa aku naik angkutan kota. sebenarnya ada sebuah sepeda motor yang papaku belikan untuk aku pergunakan ke sekolah. tapi entah kenapa aku lebih suka naik angkutan kota. saat aku hendak turun dari angkutan kota, tiba tiba dari arah belakang angkutan kota ada sebuah sepeda motor yang menabrakku dengan kecepatan tinggi. aku sangat terkejut hingga akhirnya semua menjadi gelap dan aku tak tahu sebenarnya apa yang terjadi padaku. pada saat itu aku seperti berada didalam suatu dimensi waktu entah dimana itu, semua sangat gelap dan hanya ada aku yang terus dan terus mengejar sebuah cahaya putih yang sangat terang, namun aku tidak mampu mengikutinya yang semakin lama semakin jauh.

dua hari kemudian aku baru tersadar dari tidurku yang panjang. ternyata aku telah tertidur selama dua hari tanpa bangun dan setelah aku terjaga aku tidak mampu melihat apapun. ternyata aku buta setelah dokter membuka perban dimataku. dokter bilang ada kerusakan pada otakku yang menyebabkan saraf dimataku rusak hingga akhirnya kini aku tidak bisa melihat lagi. sangat hancur sungguh hancur hatiku ketika aku mengetahui kenyataan yang sangat menyakitkan ini. semua keluarga, sahabat dan Ryo pacarku sangat terpukul dengan keadaanku saat ini. mereka tidak tega melihatku yang terus menangis dan berusaha berjalan keluar kamar sendiri. mereka sangat setia menemaniku setiap hari. menghiburku, berusaha membuatku tertawa meskipun hatiku sangat terluka. aku harus menerima kenyataan diusiaku yang baru menginjak 17tahun aku tidak akan lagi mampu melihat apapun yang ada disekitarku.
namun semua itu mampu terobati sedikit dengan kehadiran para sahabatku dan ryo yang setiap hari sepulang sekolah selalu mendatangi rumahku dan menghiburku. aku juga meminta mereka mengajarkanku pelajaran yang diajarkan disekolah pada hari itu. aku sangat ingin tetap bersekolah, tetap mengerti pelajaran meski dengan keterbatasanku seperti ini. aku sangat senang, mereka mengajarkanku dengan ikhlas dan dengan tulus.
seperti biasa hari ini mereka datang kerumahku untuk belajar bersama. ketika aku hendak kekamar kecil, aku melewati taman belakang rumahku. tiba tiba aku terkejut ketika aku mendengar dua orang yang sedang bercakap cakap. dengan rasa ingin tahuku, akhirnya aku bersembunyi dibelakang pintu dan mendengarkan. ternyata itu ryo dan anggi sahabatku.
"anggi, aku ingin bicara sesuatu yang sangat penting ke kamu" kata ryo
"ada apa ryo? kenapa disini, apa diruang tengah tidak bisa? aku tidak enak dengan Martha"
"tak apa, dia tidak ada disini, tenang saja"
"emang mau ngomong apa sih?"
"aku pengen jujur sesuatu sama kamu, dari dulu sebenarnya aku sangat menyukai kamu. aku sayang sama kamu nggi"
"apa? kamu ga salah? ga ga ini salah Ryo. kamu pasti ngelindur kan?"
"engga Nggi, aku jujur ini"
"trus gimana sama Martha. kamu udah lama pacaran sama dia kan?"
"aku memang salah, sebenarnya yang aku suka itu kamu, bukan dia. bukan Martha. tapi kamu Nggi. dari dulu aku pacaran sama Martha hanya untuk bisa terus melihatmu, bersamamu, walaupun caraku ini sangat salah"
"kamu gila ryo?"
"terserah kamu mau bilang apa, tapi ini benar. jujur aja deh kamu juga suka kan sama aku. aku sempat membaca diarymu, semua isinya tentang aku, udah Nggi, ga usah bohong lagi"
"tapi ini salah Ryo, Martha itu sahabatku, dia juga pacarmu. ga seharusnya kita saling suka. ini salah"
setelah mendengar semua itu aku sangat terkejut. hatiku tiba tiba sangat sakit. semua terasa sangat ga adil sama aku. meski aku meneteskan air mata, karena orang yang aku sayangi dari dulu menyukai sahabatku sendiri bukan aku. namun akhirnya aku memberanikan diri muncul dihadapan mereka.
" ini ga salah Nggi. perasaan kalian ga ada yang salah, emang mungkin cara kalian yang salah"
"Martha? ka..kamu disini?"
"Iya Nggi, maaf sebelumnya aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian barusan. apa semua ini benar Ryo?"
"i..iya Martha. maafkan aku selama ini bohong sama kamu, maaf selama ini aku tidak pernah benar benar menyukaimu. aku sudah berusaha tapi semua sia sia tetap saja aku tidak bisa menyukaimu. yang aku suka Anggi"
"Iya aku mengerti kok. perasaan kalian ga ada yang salah, meskipun jujur aku sakit mendengar semua ini, tapi aku sadar, rasa kalian tidak pernah salah. aku juga tidak pernah bisa memaksa kalian untuk menghapus rasa itu"
"maksud kamu apa Martha?"
"oke gini, Ryo aku minta putus sama kamu sekarang."
"apa? kamu serius bilang gitu?"
"apa muka aku keliatan bohong, udahlah kalian jadian aja ya. aku juga bisa tenang sekarang. ada Anggi sahabatku sendiri yang baik. aku yakin kamu bisa bahagia dengan Anggi. Ryo. aku ga bisa membahagiakanmu dengan keterbatasanku seperti ini"
"kamu serius Martha? "
"iya iya Ryo, aku seneng kalo aku bisa tahu kalian seneng. kalian ga perlu ngerasa ga enak ya. maaf aku tinggal kebelakang sebentar ya. selamat ya"
sungguh menyakitkan melepas Ryo. melepas orang yang kusayang meski ternyata dia tak pernah menyayangiku. tak pernah menyukaiku. air mataku tak henti hentinya menetes. tapi aku sadar semua ini memang sudah takdir Tuhan untukku. aku berusaha menguatkan diri dan tidak menangis didepan orang tuaku dan teman temanku.
suatu sore ketika aku sedang sedih aku memutuskan pergi ketaman komplek rumahku dengan diantar oleh sopir papaku. ketika didalam taman aku merasakan kesejukan dari pohon pohon rindang yang sangat banyak. aku berusaha berjalan dengan tongkat yang setia mengantarku kemanapun aku pergi. setelah berkeliling taman dan aku merasakan lelah, aku duduk dibangku taman, dan tiba tiba aku dikagetkan dengan seseorang yang ternyata sedang duduk dibangku tersebut. dia tiba tiba bangun dan terkejut dengan kehadiranku.
"si siapa disana? " tanyaku
"kamu siapa? mau apa kamu?"tanyanya
"aku mau duduk dibangku ini, maaf aku tidak tahu kalau ada orang disini. maafkan aku"
"ka kamu...?"
"buta. memang. maaf ya aku tidak melihatmu"
"i iya gapapa. silahkan duduk"
"dia membantuku duduk. dan kamipun berbincang bincang seperti teman yang sudah lama. hingga aku tahu namanya. namanya Rizal. dia ternyata tinggal diperumahan yang sama denganku namun beda komplek. dia memang baru pindah, dan ternyata dia bersekolah disekolahku. dan satu angkatan denganku.
tak terasa waktu sudah sore, aku berpamitan pulang dan disepanjang jalan hingga sampai dirumah. aku terus memikirkan dia. penasaran dengan orangnya. penasaran juga dengan diriku, kenapa aku bisa langsung akrab dengan orang yang baru aku kenal. padahal biasanya aku susah akrab dengan orang yang baru dikenal.
sudah sekitar dua bulan aku mengenal Rizal. dia selalu menemaniku pergi ketaman, belajar bersamaku dan teman temanku. dan dia yang menjadi tempat curhatku ketika aku merasa sedih. namun pada suatu hari dia tidak datang menjemputku seperti biasa. mungkin dia sedang sibuk atau ada urusan. namun itu terjadi selama berbulan bulan hingga aku merasa marah padanya. kenapa dia tidak mendatangiku. kenapa dia tidak menghubungiku. apa dia sadar malu memiliki teman buta sepertiku. suatu ketika aku tersadar dalam lamunanku, apakah mungkin aku menyukainya. tapi aku kan belum pernah melihat mukanya. tapi kenapa aku sangat marah ketika dia tidak mendatangiku.
hingga suatu ketika, mama memberitahuku bahwa telah ada donor mata dirumah sakit tempatku dulu dirawat. akhirnya seminggu kemudian, bersama keluarga, dan sahabat sahabatku aku pergi kerumah sakit dan menjalani operasi itu. 7 jam aku berada didalam ruangan yang sangat dingin itu, ruangan yang hanya ada aku dan para dokter dan obat obatan yang baunya sangat tidak aku suka. setelah operasi selesai aku dipindahkan diruang rawat. sehari kemudian, aku tersadar dan aku merasakan disekitarku banyak orang orang yang menyayangiku, beberapa hari kemudian, tiba saat yang sangat mendebarkan untukku, karena sebentar lagi aku akan tahu apakah aku bisa melihat atau tidak. setelah perban selesai dibuka. aku meneteskan air mataku,. mengucap syukur kepada Tuhan, aku bisa melihat lagi. aku sangat senang.
setelah seminggu aku dirumah sakit, akhirnya aku pulang. dan dilobi rumah sakit aku bertemu dengan seorang ibu ibu yang tiba tiba menangis ketika sedang menatapku. dia sangat pucar dan terus menangis. belum sempat aku bertanya padanya, mama memanggilku untuk segera pulang. diperjalanan aku terus teringat ibu itu, dia terus menangis ketika menatapku. aku menjadi takut sendiri. sesampainya dirumah, aku bertanya kepada mama siapa yang telah rela mendonorkan kornea matanya untukku. namun mama tidak memberitahuku. setiap kali aku bertanya mama selalu mencari cari alasan untuk tidak menjawabku. hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi kerumah sakit dan bertanya kepada dokter yang merawatku. dokter juga tidak memberitahuku.sebenarnya ada apa ini, aku hanya ingin berterima kasih kepada orang yang sangat baik itu. apa aku salah?
pada saat aku hendak pulang, tiba tiba wanita yang waktu itu memelukku dan menatapku kembali dengan terus menangis. aku berusaha menenangkannya. aku mengajaknya ketaman rumah sakit dan mengajaknya ngobrol.
"tante kenapa? kenapa tante manangis saat melihat Martha?"
"tante . tante tidak kenapa kenapa sayang"
dia terus memelukku, dan dia kemudia mengajakku kedalam suatu ruangan  yang disana ada seorang laki laki muda sedang tertidur pulang. laki laki itu sangat tampan. kemudian tante itu memberitahuku bahwa itu adalah anaknya. namanya Rizal. sejenak aku terdiam dan teringat dengan Rizal temanku dulu. orang yang tiba tiba datang dikehidupanku dan tiba tiba pula pergi. tiba tiba Rizal bangun dan dia memanggil mamanya. ternyata Rizal buta. dia tidak menyadari keberadaanku.
"nak, disamping mama sekarang ada Martha."
" Martha? kamu benar Martha Wiaya?"
"i.. iya.."
aku sangat terkejut ketika lelaki itu mengenaliku dan menyebut namaku. tiba tiba dia bilang kalau dia Rizal yang dulu menjadi temannya. lagi lagi aku dibuat terkejut dengan pernyataannya. apa ini semua Tuhan. apa yang sebenarnya terjadi padaku. bukankah Riza yang aku kenal tidak buta dan dia sehat.
"Rizal mengidap kanker otak Martha, dia sering bercerita tentangmu kepada tante. tante mengenalimu dari matamu. itu mata Rizal. mata yang Rizal donorkan kepadamu. dia meminta tante melakukan hal yang sangat menyakitkan ini. dia sadar usianya sudah tidak lama lagi. dia memutuskan untuk mendonorkan matanya padamu."
apa? semua ini benar? sejenak aku terjatuh dan berlutut dihadapan mama Rizal sambil menangis. aku masih tidak percaya Rizal melakukan ini padaku. dia rela memberikan matanya padaku. dia rela tidak melihat demi aku. tiba tiba mama rizal berteriak histeris ketika dia melihat anaknya tidak sadar lagi. Rizal meninggal, tepat setelah aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya. tepat ketika aku baru melihat dan mengenal dia.
aku sangat terpukul atas kepergian dia. disaat itu aku benar benar tersadar aku memang menyukainya. aku menyayanginya.
aku terus menangis hingga akhirnya tiba saatnya Rizal dimakamkan. aku melihat mama Rizal sangat terpukul. setelah semua orang pergi, mama Rizal memberikanku sepucuk surat, dia bilang ini dari Rizal. didalam surat itu ada foto kami. entah kapan dia mengambilnya. mungkin saat aku masih belum bisa melihat. disamping makan Rizal aku menguatkan diriku untuk membacanya

Teruntuk Martha
Ini aku Rizal. Cowok misterius yang tiba tiba hadir dihidup kamu
Pertemuan kita yang tidak pernah disengaja membuat kita menjadi teman
Aku rindu melihat senyummu
Aku rindu mendengar celotehan itu
Aku rindu mendengar tawa itu
Aku rindu belajar bersama kamu
Aku rindu main ditaman bareng
Aku rindu semua yang kita biasa lakukan bersama
Maafkan aku yang tiba tiba pergi ninggalin kamu
Pergi tanpa memberikan alasan dan penjelasan kekamu
Maafkan aku yang harus pergi dan ga bisa lagi memberikan hiburan untuk kamu
Maaf aku ga bisa lagi menyayangi kamu lebih dari ini
Aku menyukai kamu
Sejak awal Tuhan menakdirkan kita bertemu
Aku menyayangi kamu
Aku mencintai kamu
Maafkan aku Martha
Kisah ini harus berakhir disini
Tapi tenang
Aku tetap ada disamping kamu selalu
Cintaku akan selalu ikut kemana kamu pergi
Mata itu akan mencintai kamu seperti aku mencintai kamu
Berbeda cara denganku tapi itulah caraku
Jaga mataku ya Marthaku sayang
Jaga cintaku
Dan semoga kamu mendapatkan yang terbaik yang mampu membuatmu tersenyum selalu

Salam sayang
Rizal

surat itu membuatku terpukul. ternyata dia memiliki perasaan yang sama denganku. dia menyukaiku, sama dengan aku menyukainya. Ya Tuhan, bagaimana semua ini bisa terjadi didalam hidupku. aku sangat sedih ditinggal dia. orang yang belum sempat mendengarku mengungkapkan perasaanku. aku berbisik disamping papan nisanya. "aku menyukaimu Rizal, Demi Tuhan aku menyayangimu, terima kasih untuk cinta yang tulus kau beri untukku. terima kasih untuk pengorbanan yang tulus kau lakukan untukku. maafkan aku yang baru sadar atas perasaanku ini. tenanglah disana. tenanglah ditempat yang tak akan pernah lagi kau rasakan sakit, dan disana kau mampu melihat semua yang Tuhan berikan"
aku kembali tersadar. apapun yang terjadi ketika kau menyukai orang lain. katakanlah, katakanlah meski semua berat. karena kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita bisa melihat dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar