Selasa, 30 April 2013

Senyum Termanis yang kini Menjadi Tangis



SENYUM TERMANIS YANG KINI MENJADI TANGIS
Senyum Termanis yang kini Menjadi Tangis
By........... 
Nama ku NR bagiku CINTA adalah perasaan yang sakral, tak habis kata untuk mengartikan lima huruf yang berjejer indah. Cinta selalu menjadi topik hangat di seantreo dunia, keberadaannya selalu menjadi teka-teki dan misteri hati. Kalau saja kita tak pernah dilahirkan ke dunia, mungkin kita tak kan pernah mengenal arti cinta, tak kan pernah merasa dicintai atau mencintai, juga tak kan pernah menjadi pencinta yang tulus.

Siang itu adalah hari sabtu,, pertemuan pertamaku dengannya setelah menjadi sepasang kekasih.. Aku teramat bahagia untuk itu,, aku berusaha untuk tampil istimewa di depannya,, memilih baju, sandal, tas, jeans dan jilbab yang matching untuk ku kenakan pada pertemuan itu.. Aku seolah menjadi wanita paling bahagia di seantreo dunia,, karena bisa menjadi wanita terpilih dari sekian banyak wanita yang menyukainya.
Usia kita terpaut 3 tahun,, dia 3 tahun lebih tua dariku.. Ia tampan, supel, pintar, dewasa, baik, bijaksana dan romantis.. Itulah yang membuatku merasa menjadi gadis paling beruntung.. Satu paket dari banyaknya karakter positif yang aku suka darinya adalah karena dia mengenakan kacamata.. Entah kenapa aku lebih senang dengan pria berkacamata,, bisa jadi karena aku adalah fans fanatiknya Afgan Syahreza yang menamakan diri sebagai Afganisme.. jadi secara tidak langsung, sebenarnya aku menginginkan Afgan Syahreza yang menjadi partner hidupku,, tapi karena itu adalah bagian dari hal mustahil,, so selain Afgan pun tak jadi masalah, asalkan dia berkacamata.. Seperti pepatah ini “Tak Ada Rotan Akarpun Jadi”,, heheeee,,, konyol memang,, tapi yaaa inilah aku.. Sii gadis penyuka pria bernisial RA.
* * *

Ting-ting-ting (tanda pesan masuk),, ponselku berdering pertanda ada pesan masuk,, ternyata itu adalah pesan singkat dari sii beybbii,,, ku buka pesan singkat itu dengan senyum yang tak pernah henti menghiasi bibir mungilku.
“Ayy,, kita ketemu jam 1 aja yaa,, di depan halte kampusku,, biar waktunya agak lama’an,, nanti kita langsung jalan,, kamu yang pilih tempatnya,, terserah kamu dehh mau ke mana.. miss U beeyy...”  
Setelah selesai membacanya,, tanpa pikir panjang aku langsung menekan tombol replay di ponselku.

“Okkeii,, setelah sholat dzuhur aku langsung meluncur ke kampusmu,,, jangan telat yaahh... miss U too,,”
Haaaa,,, saat itu dunia serasa berhenti berputar,, seolah hanya ada aku dan kamu yang menghuni bumi ini.. Tak ada makhluk lain,, hanya KITA.. ^^ aku jadi tak sabar menunggu jarum jam menuju ke arah pukul satu.. Memang saat itulah yang menjadi penantianku,, karena rindu yang dia rasakan sama manisnya dengan rindu yang menggantung dalam sukmaku.. Kehadirannya memang mampu buatku lupa akan cerita indah masa laluku bersama sang mantan yang belakangan ini telah menjadi mantan yang paling berkarat di hatiku.. Sedikit demi sedikit aku mulai berhasil meninggalkan bayangnya dalam masa laluku,, dan semua itu karena DIA,, sii pria yang kini menjadi Super Heroku.. Dulu aku memang merasa teramat sulit untuk tak memikirkan mantanku itu,, tapi syukurlah hal itu kini tak terjadi lagi.. Aku berusaha relakan dia pupus bersama sang waktu,, karena ku pikir telah ada sang Super Hero yang kini berperan mewarnai hari-hariku kembali..
* * *

Ketika jarum jam menunjukan pukul 12.30 WIB,, aku langsung bergegas menuju lokasi yang telah dijanjikan.. sebelum berangkat pastinya aku telah menunaikan sholat dzuhur terlebih dahulu, karena hal itu memang selalu di ajarkan bunda kepadaku. Angkutan umum warna biru adalah tujuan terakhirku untuk segera sampai ke
Sekolah.. Tepat di pukul 13.07 WIB aku telah sampai di depan sekolahnya.


“Kiri bang,, ucapku penuh semangat memberhentikan angkutan umum yang sedari tadi ku tumpangi”..

Setelah aku selesai membayar dan mengambil kembalian,, aku langsung memposisikan diriku untuk duduk di halte.. Dug-dug-dug,,, jantungku terasa lebih kencang berdetak,, seperti ada sensasi halilintar di DUFAN imajiku... Aku mencoba menormalkan kembali detak jantungku dengan cara menarik nafas panjang sambil memegang dadaku dan mengebuskannya pelan-pelan,, berharap semoga hal ini dapat membantu jantungku untuk berdetak dengan normal kembali.. Setelah dirasa cukup baikan,, akupun bermaksud hendak mengiriminya pesan singkat untuk menanyakan keberadaannya.. Bersamaan dengan aku mengambil ponsel di saku celanaku,, tiba-tiba ponselku berdering tanda pesan masuk.. Hmmm,,, ternyata untuk urusan pesan singkatpun kita sehati.. Dengan waktu yang hampir bersamaan,, kita hendak menanyakan hal yang serupa.


“Ayy,, kamu udah nyampe mana?? Aku udah di kampus nii,, di sekret.. Hmmmpp,, aku langsung ke halte ajah kali yah..”

Akupun langsung membalas pesannya:
“Aku udah di depan sekolah kamu beyy,, baru ajah nyampe.. yaudah kamu ke sini yaa,, aku nya sendirian nii...”

Tak lama waktu berselang,, tanpa kusadari wajah tampan dengan senyum khasnya telah ku dapati,, wangi tubuhnya pun mulai tercium.. Kulihat Ia sedang berjalan mendekat ke arahku sambil melambaikan tangan.


“Heyy ayy,, belum lama nunggu kan??,, tanyanya sambil mengelus kepalaku”
“Iya aku belum lama ko,, hanya baru beberapa menit, jawabku sambil melempar senyum manisku ke arahnya”

Sejak saat itu,, kami mulai meluncur ke Alun-alun kota
CINTA,, tempat yang asyik untuk santai bersama sang pujaan hati.. Setidaknya kami bisa bersenda gurau, saling melempar senyum, saling memuji, saling melirik dengan malu, dan di tengah candaan itu sesekali ia mencubit pipiku.. Tanpa harus ku bilang bahagiapun sepertinya ia tahu bahwa aku sangat bahagia bersamaanya,, semua itu mungkin dapat terlihat dari senyum yang tak pernah henti menghiasi bibir mungilku dan dari bola mataku yang tak pernah jera dari binar.


“Oohh Tuhan,, jangan biarkan waktu ini berlalu begitu cepat,, saat ini aku hanya sedang ingin menikmati kebersamaanku dengannya,, ucapku dalam hati”


Ketika aku sedang setengah terdiam,, dia memintaku memejamkan mata,, dimulai setelah ia selesai menghitung hingga angka tiga.. Saat itu aku mulai merasa penasaran, sebenarnya akan ada hal indah apa yang dilakukannya untukku.. Secara diam-diam ternyata dia mencoba untuk membuatku semakin cinta dengan kejutannya.. dari arah yang berlainan bisa didapati bahwa ada tiga pria yang membawa 3 benda yang berbeda,, tiga pria itu adalah kurir dari toko boneka, toko coklat dan toko bunga yang dari beberapa hari lalu telah dipesannya.


“Hmmpp,,, satu dua tiga... ayyoooo buka matamu ayy,, Surpriseeeeeeeeeeeeee,, ucapnya sambil melebarkan tangannya bergaya ala pangeran di negri dongeng”


Dan ketika aku mulai membuka mata,, telah kudapati tiga benda lambang cinta berada persis di depanku.. Lima batang coklat Catt Burry,, satu boneka Mickey Mouse berukuran jumbo,, dan dua belas tangkai Bunga Mawar yang disatukan dalam buket yang indah... Aku bisa langsung mengerti bahwa jumlah angka dari setiap bendanya mewakili makna dari moment tak terlupakan 10 hari yang lalu. Lima batang coklat Catt Burry menandakan tanggal jadian kami, sedangkan satu boneka Mickey Mouse menandakan bulan jadian kami,, dan dua belas tangkai Bunga Mawar menandakan tahun jadian kami..
21 April 2013,, itulah moment indahku 10 hari yang lalu bersamanya,, dan itu tak kan pernah terlupakan.
“iiiihhhh so sweet dehh,, aku suka ini,, makasih ya beeyy,, dapat ku pastikan bahwa moment ini juga tak kan kulupakan,, ucapku dengan mata berbinar bahagia”.
“Sama-sama sayang,, aku juga senang melakukan ini untukmu,, ini sebagai bukti betapa aku mencintaimu,, kamu adalah satu-satunya wanita yang kuharapkan untuk mendampingiku sampai nanti Tuhan akan memanggilku,, aku sayang kamu,, ucapnya sambil memegang tanganku dengan jari-jemarinya yang lembut”.
“Kamu bisa lihatkan betapa bahagianya aku saat ini,, itu tanda bahwa aku bersyukur memiliki pria sepertimu,, aku juga sayang kamu beeyy,, seruku sambil balik memegang tanganya dengan erat”..
* * *

Sore itu adalah sore bahagiaku,, hari terbahagia kedua setelah 10 hari yang lalu, hari dimana dia memintaku menjadi kekasihnya.. Bedanya,, sabtu sore ini waktu seolah berjalan dengan sangat cepat.. Beberapa jam yang terlewat hanya terasa seperti beberapa menit.. Aku bahkan tak tahu,, kenapa jika kita sedang menikmati kebersamaan dengan orang yang terkasih, waktu serasa tak berpihak.. Ia berjalan dengan sangat cepat,, padahal kebersamaan itu masih dirasa kurang cukup lama,, rindu yang terasa saja belum benar-benar terobati.. Sabtu sore ini mungkin pertemuan kami cukuplah hanya hingga pukul 16.00 WIB,, bunda tidak mengizinkanku pulang larut malam,, jadi aku lebih memilih untuk pulang sebelum waktu magrib tiba.
Tepat pada pukul 16.00 WIB ia mengantarkanku pulang.. Ketika mengendarai sepeda motor,, Ia benar-benar memperhatikan keselamatanku.. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang normal,, padahal berpacu dengan kecepatan tinggi adalah hal yang biasa dilakukannya,, tapi kini hal itu tak dilakukannya.. Ia mencoba melindungiku dengan caranya.. Aku termasuk anak yang polos,, untuk hal melingkarkan lengan ke pinggangnya pun aku masih merasa malu. Tapi sepertinya ia merasa risih,, ia takut akan terjadi apa-apa denganku,, memang tak ada yang kujadika pegangan saat itu.. kemudian dengan sangat tiba-tiba,, ia menarik kedua tanganku, mencoba menggapainya dan memposisikan lenganku melingkar di pinggangnya.. Posisi tubuhku menjadi sangat dekat dengan punggungnya.. Mungkin detak jantungku yang kini ritmenya mulai bertambahpun bisa dirasakan olehnya.. saat itu pula ia menoleh ke arahku dan mengatakan kalimat pendek yang bermakna dalam,, “Aku Sayang Kamu”.. Tapi aku tak menjawabnya,, suara bising kendaraan kujadikan alasan untuk berpura-pura tak mendengar ucapannya.. karena aku takut ia dapat membaca kegugupanku..
Sesampainya di rumahku,, ia langsung pamit untuk pulang.. Tak menyempatkan sedikit waktu pun untuk sekedar mengistirahatkan diri.. Sekitar pukul 17.30 WIB,, ia mengirimiku sebuah pesan singkat yang menyatakan bahwa dirinya telah sampai di rumah tanpa kurang suatu apapun.. Inilah pesan singkatnya yang ia kirim saat senja tiba..
“Ayy,, aku udah nyampe rumah nii,, makasih yaa atas sabtu terindahnya”..
* * *

Sejak saat itu,, haripun seolah berlalu dengan sangat lambat,, tak kudapati sedikitpun kabar darinya.. tapi aku masih bisa untuk berpikir positif bahwa ia memang sedang disibukan dengan tugas,, Aku mencoba untuk tak melemaprinya dengan pikiran-pikiran negatif,, karena bagaimanapun juga aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa apaun aktifitasnya, selagi itu membuatnya nyaman,, aku akan selalu mendukungnya.. Tapi entahlah,, beberapa hari belakangan ini aku merasa ia menjadi amat berbeda,, bahkan komunikasi itu nyatanya telah benar-benar putus,, nomor ponselnya tak pernah aktif.. Aku teramat kesulitan untuk mengetahui kabarnya,, bahkan sejak saat itu,, akun facebooknya sama sekali tak terlihah ada aktifitas. Aku mulai merasa bahwa ia memang sengaja menghindariku.. Jika memang ia,, sebenarnya apa yang menjadi alasannya untuk melakukan itu,, padahal sebelumnya ia masih bersikap sangat manis kepadaku,, bahkan ia berani membuat kejutan yang ia susun selama satu minggu lamanya.


Jutaan detik,, ribuan menit,, ratusan jam dan puluhan hari telah berlalu.. tak terasa ini adalah hari kesebelas ia menghilang dariku tanpa kabar.. Tapi aku tak pernah henti untuk mencoba menghubunginya via sms dan telfon.. Namun sepertinya itu teramat sia-sia,, lagi-lagi yang kudapati hanya suara operator yang menyatakan bahwa nomornya sedang tidak aktif dan berada diluar jangkauan.. Aku mulai tak mengerti dengan semua yang terjadi saat ini,, apakah memang dia sengaja mengganti nomor ponselnya dengan nomor yang baru?? lantas apa artinya kejutan yang ia buat beberapa hari yang lalu,, jika pada akhirnya ia melukaiku dengan cara seperti ini.

Kenapa harus kau ciptakan senyum termanis,, jika pada akhirnya kau buatku menangis.. Kenapa kau buat mataku berbinar bahagia,, jika pada akhirnya kau buat mataku nanar karna air mata.... Aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi,, Peristiwa tiga setengah tahun silam yang paling aku benci ternyata harus kembali terulang dengan orang yang berbeda.
Tak seorangpun tahu kalau saat ini aku sedang terluka,, aku memang memilih untuk tidak menceritakannya pada siapapun, termasuk keluarga dan sahabat-sahabatku.. Aku memilih untuk tetap terlihat tegar di depan mereka,, tawa dan senyum indahku adalah hal yang biasa aku tunjukan untuk menutupi lukaku.. Aku tak ingin ketika air mata ini jatuh mereka menjadi teramat mengkhawatirkanku. Biarlah kusimpan semuanya sendiri,, biarlah aku mencoba mengibur diriku sendiri,, biarlah aku menguatkan diriku sendiri dan biarlah aku memulihkan hatiku kembali dengan caraku sendiri.. Aku tak ingin melibatkan siapapun untuk dukaku ini.

Luka,, !!!! yaaa aku memang merasa terluka dengan semua ini. Kenapa harus ada ucapan sayang bila akhirnya kamu menyia-nyiakan aku... Bahkan hingga detik ini aku masih bertanya-tanya,, apa salahku??? Kenapa dengan tiba-tiba kamu menghilang dan pergi tanpa kabar,,, sungguh aku tak mengerti dengan ini. Jika setiap yang terjadi harus ku artikan,,, maka untuk yang ini,, aku belum bisa mengartikannya.
Mungkin jika masa itu tak pernah ada,, barangkali aku tak perlu repot untuk mencari jawaban dari pertanyaanku.

Kenapa semua ini terjadi secara tiba-tiba,, sabtu siang di pertemuan pertama setelah menjadi kekasih, kita masih baik-baik saja,, kamu masih memperhatikanku,, masih tersenyum bersama,, masih bersenda gurau bersama,, masih minum bersama,, masih duduk bersebelahan,, masih mencoba membuat cintaku semakin besar dengan kejutan itu,, bahkan kamu masih sempat memegang tangganku dan mengantarkanku pulang.. setelah itu kamu pun masih sempat mengirimiku pesan singkat untuk bilang bahwa kamu telah sampai di rumah.

Yang aku sedihkan,, ternyata itu adalah pesan singkat terakhirmu untukku.. kau MENGHILANG dan tak izinkan aku untuk tahu alasannya... Tahukah kamu,,, tak pernah terlewat seharipun untuk aku mencoba menghubungi nomor ponselmu,, tapi ternyata semuanya sia-sia,,, tak kudapati sedikit kabar darimu.
APA SALAHKU??????
Jika kamu memang tak sayang lagi,,, aku malah lebih ingin kamu langsung katakan itu ke aku,, bukan dengan cara konyol seperti ini... kamu cukup dewasa,, bijaksana dan lembut,, itu yang aku suka darimu.. tapi kenapa untuk yang ini kamu tidak bisa melakukannya dengan caramu yang bijaksana.

Jujur,, sampai detik ini aku masih sayang,, aku masih berharap bahwa ada masanya nanti kamu akan menghubungiku kembali dan memberi kabar,,, aku bahkan berharap bahwa kamu menghilang ini bukan untuk sengaja melukaiku,, tapi karena kamu sedang berusaha untuk membuatku tersenyum dengan kejutan yang kamu buat seperti 11 hari yang lalu.
Jika bagimu merindukanku adalah hal yang berat, harusnya kamu belajar dari caraku merindukanmu.. Kau adalah mentari yang hangatkan pagiku, dan bulan yang terangi malamku.

Tak bosan aku menyebutmu dalam do’aku,, mencoba mengetuk hati sang pencipta surya agar berbaik hati mengirimkanmu lagi untukku.
Tak perlu kamu tahu berapa banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan tentangmu,, dan aku pun tak ingin kamu ikut sedih ketika tahu betapa dinginnya hari-hariku tanpa senyummu.

Entahlah,,,,, sepertinya memang hati dan pikiranku harus bekerja keras untuk melupakanmu dan membuang jauh bayangmu hingga langit ke tujuh.
Aku memang menyadari bahwa kehidupan ini terkadang mengharuskan kita menerima apa yang tidak kita harapkan dan tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.. Maka aku akan tetap berusaha untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus tetap ikhlas untuk menerima apa adanya.

Terimakasih,, karena kamu sempat berperan mewarnai hari-hariku meskipun dengan waktu yang teramat singkat... Ku coba untuk tegaskan pada diriku sendiri bahwa “ketika kita berencana maka biarkanlah Tuhan yang menjadi penghapusnya dan menggantikannya dengan yang lebih baik”.



Selasa, 02 April 2013

PERJALANAN KU CERITA TENTANGMU


PERJALANAN KU CERITA TENTANGMU
By. Zuliaden Jayus.
Baru saja malam menepi menanti sang mentari, menanti kehangatan datang memberi pancaran cahaya kehidupan. Tapi, tuhan tak berpihak pada sang malam. Pagi yang cerah dinanti malam, tersatir awan mendung hitam karena langit baru saja menangis, kabut pagi pun menari di sela-sela intipan matahari yang bersinar sedikit malu-malu. Embun pagi dan bekas tetesan hujan masih melekat pada daun-daun hijau yang tampak basah.
            Di pojok sana baru saja daun talas meneteskan air di atas kolam, membuat gelombang yang terus membesar dari sebuah titik kecil. Nyanyian burung terdengar merdu pagi ini, walau sedikit sedih tapi tetap terdengar merdu di antara kabut-kabut putih.
Dari pojok sana setelah memasuki gerbang bangunan bercorak Joglo, sebuah masjid besar berwarna putih berlantai dua berdiri di depan pondok. Beduk yang kusam, menghias di samping kiri serambi dengan dua kentongan dari kayu jati kira-kira berumur ratusan tahun.
Udara di desa ini memang terasa dingin sekali, hawanya yang kata orang-orang pribumi seperti di Eropa waktu musim dingin, dipenuhi dengan kemalasan dan hasrat untuk kembali berselimut waktu pagi, terlebih memasuki musim pancaroba seperti ini.
Dua gunung yang berdiri kokoh di ufuk timur menjadi penghias mata kala mentari menyapa hangat mengintip dari baliknya. Tampak indah dengan sinar mega merahnya yang menyorot dinding langit timur.
Suara santri mengaji terdengar kompak dari serambi masjid. Menafsirkan ayat perayat sudah menjadi hal yang biasa bagi para ustadz agar para santri dapat memahami al-Qur’an secara mendalam dan mudah menerimanya, dan ini merupakan salah satu metode jitu agar para santri dapat menghafalkan al-Qur’an dengan cepat dan mengena. Tak hanya hafal saja, tetapi santri dituntut dapat mengamalkan setiap penafsiran yang terkandung dalam al-Qur’an tersebut walau tidak secara langsung.
Di gedung sebelah utara, pondok putri dengan rapat tertutup kordeng berwarna merah, entah itu menandakan apa, yang jelas tampak indah dengan pesonannya, aula menghiasi lantai bawahnya, biasa tempat ini di gunakan untuk mengaji, sama halnya dengan dengan pondok putra, santriwati pun juga mengaji tafsir, biasanya di selingi dengan tambahan mufrodat-mufrodat bahasa Arab atau vocabulary bahasa Inggris sebagai tambahan wawasan agar tak ketinggalan dengan perkembangan zaman.
Sebelah timur aula adalah rumah Kiyai atau biasa ndalem dalam istilah pondok pesantren. Berhiaskan dua pohon kecil di depannya dan bersanding kolam ikan. Begitu asri tapi sedikit menyeramkan karena ini adalah daerah yang di keramatkan oleh para santri.
 
Sudah lama aku di sini
menimba dan terus menggali
mengapa pagi ini aku baru menyadari
sejuknya kalam tak pernah aku temui
dalam relung pesisir hati tak pernah aku mengerti
hina diri tak pernah terselami
aku terpuruk dalam himpitan ilmu
dalam indahnya problema yang dikandungnya
 
malam ini...
kerlip bintang menyapa ku malu
aku tak tahu apa yang ada di balik itu
setiap siang menepi
selalu saja ada satu bintang yang tampak bersinar terang
dikala kabut malam menyapa
di tengah himpitan dingin yang menusuk sum-sum
di balik kerudung kelam....
aku masih tetap bertanya
apa yang ada di balik malam...
sepertiga malam menemaniku
dalam sunyi yang menyapa
ku membaca malam lewat angin
tak kurasa sang bayu di sepertiga malam ini...
ku hisap rokok tuk menemani
memecah malam membaca kelam...
sebentar lagi malam menepi
walau sang bulan malas tuk pergi....
pagi terus kan datang mengganti sunyi
seribu harapku dalam sejuta anganku
dambakan malam terus berbintang
di balik kerudung kelam bersama kabut malam
aku terus membaca malam
tersungkur di hamparan tanah
tersujud memelas...
surya yang menanti pagi
tak pernah ku harap ia kan datang
sebab aku merindukan malam
kelam bersama cumbu merayu-Nya...
dalam tangisan sepertiga malam...
Tuhan tolong dengarkan
bisikan ku di sepertiga malam....
dalam kelamnya malam
dalam jiwa yang tenang...
 
Sinabang,12 Maret 2012
 
 “ Kau masih ragu untuk melangkah? Bukankah telah kau tetapkan dalam tekad mu untuk terus berjalan? Kau ini bagaimana, belum berjalan saja kau sudah tak yakin, padahal kau yang merancang perjalanan dirimu.”, Denai berkata padaku.
 
            “ Bukan seperti itu Den, aku hanya belum siap dengan kenyataan yang akan terjadi nantinya, aku telah merancang semua ini tapi aku tak tahu kehendak-Nya, boleh saja aku merancang merencanakan semua ini yang menurut diriku semua akan sukses, tapi aku masih ingat Dia, di atas semua rencanaku masih ada yang menentukan perjalanan ini akan berhasil atau tidak, aku belum siap Den jika nantinya aku terjatuh di tengah jalan saat melangkah.”, sambil menarik nafas dalam ku jeda perkataanku.
 
            “ Hahahaha…..Awak….Awak…. kalau seperti itu yang kau hadapi. Mengapa tak kau pasrahkan saja semua urusan ini pada-Nya, itu jika memang kau ingat Dia seperti apa yang kau katakan tadi. Ingat Wak!!! Di balik semua perjalanan itu ada pelajaran yang bisa diambil, tinggal bagaimana kau menyikapinya, jika sebelum berjalan saja sudah menyerah, sama saja kau kalah sebelum bertanding.  Sudahlah…… Kau pasrahkan saja semua urusan mu pada-Nya, aku berani jamin, kau akan tenang nantinya. Jangan kau tambatkan semua harapan mu pada manusia, bisa saja suatu saat nanti kau akan kecewa. Tambatkanlah semua harapan pada-Nya, semua tak ada yang sia-sia dari apa yang dicipta-Nya. Kau mengerti kan kawan..???”
            Aku mengangguk pelan sambil berfikir apa yang dikata Denai padaku sambil tersenyum penuh arti sebuah suport penyemangat terhadap diriku.
            “ Nah…. Begitukan lebih baik, sekarang ambillah wudhu, kau sholat dua roka’at mengharap ketenangan hati pada-Nya, biar kawan ku ini tenang lah…… berkacalah kau! Muka kau kusut sekali seperti tak pernah mandi, hahaha….”, suruh Denai pada diriku yang memang tampak kusut setelah aku berkaca di kamar mandi.
            Kisah ini begitu panjang tetapi sangat singkat ketika dituturkan oleh kedua bibir yang membacanya. Entah bagaimana aku memulai langkah kaki setelah sekian lama terseok mencari tentang apa arti hidup ini. Dari mata yang memandang ini tampaklah seperti sebuah cerita biasa yang tiada artinya, tetapi sangatlah indah ketika sebuah hati memandang dengan perasaan.
            Kejadian itu sudah berlangsung 3 tahun yang lalu, saat aku masih terpuruk dalam kebebasan rumah dan lingkungan sekitar. Aku adalah seorang lelaki yang ingin terus berjalan mencari arti dari sekian juta persepsi. Langkah pertamaku adalah awal kesuksesanku, tinggal bagaimana aku mengayunkan langkah kakiku selanjutnya. Akhir tidaklah begitu penting bagiku, proses ayunan langkahlah yang menentukan akhirku. Kalau toh nanti aku terjatuh di akhir, setidaknya aku telah meminum garam di tengah perjalanan saat melangkah. Sebuah prinsip yang tertanam dalam hatiku “PERUBAHAN”, ya sebuah perubahan yang harus berarti untuk membentuk jiwa yang terpuji.
“Hidup hanya sekali, hiduplah yang berarti”, kata seorang teman padaku lewat sebuah film kecil yang di buatnya diangkat dari sebuah novel religi yang sangat membangun dan patut diacungi jempol.
            Disini dikala semua terasa asing dengan panorama yang berbeda dan mentari yang sama, aku terduduk di dalam buaian bersanding sebuah kitab kuno yang kata orang ini adalah warisan seni tulis dari yang Empunya agar bisa diambil manfaatnya. Tak habis pikir, hawa dingin di desa ini begitu menusuk tulang sampai sum-sum dan tak kuat pula grahamku menggerutu menahan sakit. Delapan tahun sudah berlalu aku disini dengan berjuta kenangan jauh dari tanah perantauan.
 
            “Seperti apa tanah kelahiranku saat ini..?”, gumamku dalam hati. Pandanganku melayang pada usia tahun kepergianku kala tiga tahun silam. Teringat olehku senda gurauku pada seorang sahabat yang sangat semangat memberi dukungan dan tak luput mengingatkanku pada-Nya kala aku khilaf.
 
            Denai, ya itu dia nama yang masih terngiang selama ini, sesosok orang yang membawaku pergi dari tanah kelahiran di pulau seberang menuju desa ini, desa yang terkenal dengan makanannya yang khas dan pengairannya yang tak pernah habis. “Kalibeber”, sebuah nama yang selalu dikatakannya di bawah temaram malam saat rembulan meredup di tengah kelam berkabut tanah seberang.
 
            Entah rasa apa yang bercokol pada hatiku pada saat itu, saat menghabiskan malam bersanding kopi dengan lontaran cerita masing-masing, tiba-tiba saja aku ingin datang ke desa ini seperti apa yang dikatakan Denai sahabatku. Sebuah desa yang begitu asri dengan Al-Qur’an Akbar yang menghiasi sebuah pondok pesantren dengan seorang Kiyai Sepuh yang aku pun berada di dalamnya sampai saat ini.
 
            Fikiranku masih menyangkut tertinggal di tanah seberang, tak terasa ada hujan di pipi teringat sebuah malam saat aku berkemas hendak melangkah ngangsu di desa ini. Sebuah kabar datang dari gema surau tentang kematian Denai, sesosok sahabat yang membawaku sampai ada disini (walau hanya harapannya yang membawaku datang kesini). Mendung di mata yang tumpah menjadi air hujan di pipi ini tak terbendung mengucur memoles wajah hitamku. Banyak orang merasakan ini, tapi dadaku merasakan hal yang lebih dari banyak orang yang merasakan, karena ini adalah hal pertama dalam hidupku. Sahabat kecil yang mengisi hari di serambi surau dekat rumah Pak Lurah dengan senyum dan tawa saat siang digilas mentari, saat harapan hampir mati.
 
            Cerita singkat yang tak kuasa aku melanjutkannya, sampai saat ini sakitnya masih terasa saat kehilangan. Ku layangkan kembali fikirku setelah kejadian malam itu sampai esok pagi dengan air mata kehilangan, ku langkahkan kaki tanpa sungkem bahkan pamitorang tua. Hanya bermodal pasrah ku lanjut bersangukan perlindungan dan penjagaan-Nya, bismillah ku naiki sebuah mobil yang membawaku sampai desa ini hingga saat ini.
 
Sebuah perjalanan panjang namun terasa singkat dituturkan. Pagi ini bersama laju roda berputar, di temani kabut pagi dan sedikit cahaya matahari yang tampak malu di balik awan, butiran huruf kembali tertulis bersama ukiran kenangan dan langkah waktu berjalan. Tak pernah aku paham akan keberadaanmu, kau selalu hadir dalam fikirku tanpa ku sadari kau telah menjadi bagian dalam anganku, berjuta-juta kata syair tertuang dalam catatan yang telah kusam ini, lembar demi lembar terukir kisah tentang mu. Di balik semua ini hanya satu harapku. Pada-Nya ku memohon kebahagiaanmu, karena dirimu aku tahu.
                                                                                                         
  Sinabang, 12 Maret 2012