Kamis, 29 November 2012

Rela Curangi Lako


RELA CURANGI LAKO
BY. ZULIADEN JAYUS
Kita merasakan kitalah yang paling malang. Hanya mulut mengaku Allah itu Tuhan tetapi mengapa dengan takdir-Nya kita enggan? Semacam terlupa kata peneguhan di dalam al hadis dan Al Quran bahwa besarnya masalah, beratnya ujian dan hebatnya cobaan… berkadar terus dengan kekuatan iman.
Inilah hakikat yang mesti menjadi pegangan dalam menghadapi tragedi cinta di dalam rumah tangga. Tragedi cinta menjadi ujian iman dan tauhid sesetengah kita. Setiap orang ada medan ujiannya masing-masing. Dan untuk isteri yang teruji dengan pasangannya, sematkan di dalam dada… bahwa itulah takdir yang dipilih oleh Allah untuk menguji keimanan kita.
Bukankah sudah diungkapkan oleh sejarah, ada isteri yang baik diuji dengan suami yang jahat seperti Siti Asiah isteri kepada Firaun laknatullah. Bujukan Allah cuma satu, bergembiralah dengan pahala di sebalik ujian itu. Tenanglah dengan jani-janji syurga. Ini bukan ‘escapeism’ tetapi itulah iman. Yakinlah, bahawa cinta yang lebih besar sedang menguji cinta yang lebih kecil. Cinta Allah sedang menguji cinta kita kepada isteri atau suami.
Dan jika cinta yang kecil itu rapuh, jangan pula cinta yang lebih besar itu roboh. Percayakan janji-janji Allah di akhirat adalah penawar paling mujarab untuk menghadapi keperitan ujian hidup di dunia. Ketika disiksa menjelang kematiannya, Siti Asiah hanya memohon kepada Allah untuk mendapat rumah di dalam syurga. Jadi usah dikorbankan akhirat kita hanya kerana dipersiakan oleh cinta kita di dunia.
Bagaimana sekiranya, cinta kita sudah dipersiakan? Pasangan kita seolah-olah menjadi ‘orang lain’. Bukan dia yang kita kenal dahulu. Apakah ketika itu kita akan jadi panasaran? Habis segala laci, meja tulis, kereta atau begnya kita selongkar. Telefon bimbitnya, email, facebook dan apa sahaja milik peribadinya kita bongkar. Mencari dan menghidu kalau-kalau terdapat bukti kecurangannya. Siang malam diamuk gelisah. Kita bagaikan dirasuk.
Pada saat genting itu tekanlah butang ‘pause’. Bertanyalah pada diri, apakah kita masih menaruh harapan? Jika jawapannya masih ya, maka nyalakanlah harapan itu – keep hope alife! Berusahalah untuk memperbaiki diri. Dakap cinta Allah erat-erat. Moga perubahan itu membuahkan harapan yang  akan merubah pasangan kita.
Tempuhlah jalan-jalan yang baik dan dibenarkan oleh syariat untuk membetulkan keadaan. Jangan cuba membasuh najis dengan air najis. Maksudnya, jangan gunakan jalan yang salah untuk membetulkan kesalahan pasangan kita. Nanti keadaan akan bertambah buruk. Terimalah takdir itu dahulu. Jangan mungkir. Kita tidak mungkin dapat mengawal arah tiupan angin, tetapi kita masih mampu mengawal kemudi pelayaran.
Tapi tidak bagi keluarga Jayus dan Wani, mereka dulunya menjalani cinta dengan dan membangun kehidupan dengan cinta dan saling mempercayai satu sama lain, setelah kepergian Jayus yang masih berstatus sebagai serang suami semua itu berubah menjadi kebohongan yang meraja lelah di dalam jiwa sang istri yaitu Wani, yang rela berbohong kepada sang suami akaibat hadirnya seorang pemuda diantara mereka.
Kini kehidupan yang menjau  dari seorang suami istri menjadi seorang wanita simpanan bagi seorang pria yang tidak tau siapa dan statusnya apa, kehidupan dalam keluarga menjadi neraka yang selalu membakar kebahagian dan kata cinta yang indah dan manis rasanya sekarang berubah menjadi empedu yang meracuni hati dan membunuh cinta yang sekian lama dibina, kemalangan yang hadir dikeluarga ini sunggu sangat perih hingga saat ini Jayus yang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dalam keluarganya di merasa semuanya baik-baik saja.
Hari-hari makin berlalu dengan kecurangan seorang istri, kini suamipun pulang dari perantauan dengan wajah yang berseri-seri, dengan tatapan tajam kepada sorang usami seolah-olah sekor ular yang hendak menerkam mangsanya, suami tersenyum manis dengan rasa bahagia telah melihat sang istri dalam keadaan baik-baik saja, tapi semua itu tidak bagi sang istri, yang mencurangi suaminya.
Kepergian sang suami dan kini datang kembali kepelukan sang istri menjadi berubah dan kecintaan istri bertambah kepada suami, dan selingkuhannya tidak lagi dihiraukannya, rupanya suami tau jikalau selama ini sang istri telah berslingku dibelakangnya, namu Jayus sang suami tidak marah bahkan seolah-olah tidak ada yang terjadi sama sekali. Sang istri tanpa disuruh untuk berhati jujur namun kini dia telah mengungkapkan kesalahannya dengan penuh rasa bersalah kepada sang suami yang telah relah jauh merantau demi untuk membahagiakannya sekrang mulailah kejujuran itu terungkap dari bibir sang istri.
Kini kalimat mulai terungkai dari dua belah bibir yang telah meracuni kebahagiaan ini,,,, kalimat itu diawali dari sang istri,,,
Wani : “Semua yang terjadi disini ada salah ku....” Dengan keadaan polos Sang                                 istri ngungkapkan kesalahan yang perna ia lakukan        
Jayus : “Apa maksud mu bu,,,, Ayah tidak Mengerti”
Wani  : Ya... Semuanya Ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini...
Selama ini mama berbohong pada ayah... namun yakinlah semua itu    adalah kesalahaan ku yang tak pernah ku sadari...aku khilaf...
Ayah  : “Maaf buk,,, jangan menyalakan diri sendiri dulu,,, sebenarnya apa       yang terjadi,,, dan mengapa ibu menangis ata semua yang sebenarnya       ayah tidak mengerti”
Wani  : “      Ayah,,,, sebenarnya selama kepergian mu... aku menghianati cinta dan    mengundang neraka dalam keluarga kita,,,maafkan aku ayah..”
Jayus : “Ya sudah... sekarang duduklah bersama suamimu ini dan ceritakan apa          yang sebenarnya terjadi pada mu istriku”
Wani  :”Baiklah...apakah setelah apa yang akan aku katakan nantiknya apa       ayah akan meninggalkanku..??
Jayus :”Ingatlah buk...Semua masalah pasti ada jalannya.. dan tidak semudah   itu ayah akan meninggalkan mu,,, ayah akan tetap mencintaimu hingga     saat itu telah tiba..”
Wani  :”Saat itu...Apakah ayah akan meninggalkan ku...??”
Jayus :” Ya... tentu karena nyawa dan jiwa ayah telah berpisah..”
Wani  :” Jadi ayah tidak marah pada ku...?”
Jayus :”Tentu tidak ma..!!”
Wani  :”Mama sayang benget sama ayah..!!”
Jayus :”Papa juga ma..!!”

Kini haripun berlalu dan lama semakin lama keluarga inipun kembali menjalin keharmonisan rumah tangga...dengan menjalani hari-hari dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tidak dapat dilukiskan oleh seorang istri....
Ada kalimat yang tak pernah dilupakan oleh seorang suami ketia ia mengatakan hal yang membuat mereka saling sayang menyayangi kalimat yang terungkai dengan seribuh makna dan tak ada bedanya dengan sayir cinta “Terlebih dahulu ingin aku nyatakan bahawa dalam apa jua pergolakan dan ujian yang telah berlaku sepanjang kita berumah tangga, aku tetap menghormati mu. Walaupun ada masanya sikap dan kata-kataku terlanjur dan terkasar, itu bukanlah kerana aku sudah tidak  menghormatimu apatah lagi membencimu… tetapi semua itu kerana terlalu sayang. Aku tidak mahu kehilangan dirimu sebagai seorang suami seperti mana anak-anak kita juga tidak mahu kehilangan kasih-sayang seorang ayah.
Maafkan aku. Akulah yang lebih banyak bersalah dan tidak bijak menghadapi ujian rumah tangga ini. Sesungguhnya sejak dari dulu hingga sekarang aku menagih pimpinan dan panduanmu. Pimpinlah aku untuk menjadi isteri yang solehah dan ibu yang baik kepada anak-anak kita. Aku tidak mahu berpisah dengan semua kesayangan ku ini. Oleh sebab itu aku merayu agar aku terus disayangi, dilindungi, dipercayai dan dipimpin untuk menjadi wanita yang benar-benar menjadi penyeri hidup seorang suami dan anak-anak.
Kebahagiaan kita sekeluarga berada di tangan mu. Dikaulah yang menjadi peneraju dan nakhoda rumah tangga ini. Aku tahu tugas dan amanah ini sangat berat. Ia menagih keikhlasan, keimanan dan kejujuran yang tinggi daripada mu. Aku sedar apa yang akan ditanyakan Allah di Hari Akhirat kelak kepada seorang suami sebagai pemimpin jauh lebih berat dan sukar dijawab berbanding pertanyaan Allah kepada seorang isteri. Aku tahu tangung jawab mu sangat berat. Jadi aku sentiasa sedia dan setia berada di sisi mu untuk sama-sama mengharungi kepayahan ini.
Marilah sama-sama kita insafi bahawa hakikatnya umur kita kian bertambah, upaya dan tenaga kita semakin kurang, tetapi perjalanan kita masih jauh dan beban kita semakin memberat. Amanah yang ada pun belum selesai kita tunaikan, apatah lagi untuk menambah beban yang baru. Aku bimbang… kita berdua akan kecundang.
Oleh sebab itulah aku sering mengingatkan diriku dan dirimu, marilah kita kembali menilai peranan dan tanggung jawab kita masing-masing. Aku sebagai seorang isteri dan kau sebagai seorang suami… Marilah kita sama-sama bermuhasabah, apakah kiita telah melaksanakan amanah yang kita janjikan di hadapan Allah ketika kita mula bernikah dahulu?
Pernikahan disamakan dengan mendirikan masjid. Begitu sucinya ikatan perkahwinan dalam Islam. Ia bukan dibuat hanya kerana untuk melepaskan hawa nafsu semata-mata. Jika itulah sahaja niat kita berkahwin, maka apakah yang membezakan manusia dengan haiwan? Tetapi sebaliknya, Islam meletakkan hubungan sah antara suami dan isteri sebagai suatu yang sangat tinggi dan suci.
Ia bukan sahaja perkongsian fizikal, tetapi perkongsian fikiran, perasaan dan jiwa untuk sama-sama berbakti kepada Allah. Rumah tangga hakikatnya adalah sebuah masjid… Di dalam masjid orang solat, berzikir, membaca Al Quran, mendengar tazkirah kuliah dan laian-lain ibadah.
Aku rindukan semua itu. Tetapi kerinduan itu tidak akan kesampaian tanpa bimbangan darimu. Aku lemah wahai suami ku. Pimpinlah aku untuk mendapat kasih sayang Allah melalui aliran kasih sayangmu. Engkaulah harapan aku dan anak-anak. Kami hakikatnya telah diserahkan oleh Allah sebagai amanah kepada dirimu untuk disayangi di dunia dan di akhirat. Janganlah disia-siakan amanah ini. Kelak buruk padahnya kepada kami dan kepada mu jua. Relakah engkau melihat kami terkapa-kapa di dunia ini tanpa pimpinan? Dan di akhirat terhumban ke neraka yang penuh seksaan?
Atas kebimbangan itu kekadang aku jadi cemburu. Bila ku lihat langkah dan sikap mu sedikit terbabas, aku menjadi sangat cemas. Bila ku lihat kau seakan-akan berubah, aku menjadi sangat gelisah. Bukan kerana benci, tetapi kerana sayang. Mengapa tidak? Bukankah di tangan kamu kemudi rumah tangga ini.
Kesilapan dan kesalahan mu sangat buruk akibatnya kepada kita sekeluarga. Jadi, fahamilah hati isteri mu ini wahai suami ku… Curiga ku bukan kerana prasangka. Cemburu ku bukan kerana melulu. Jauh sekali untuk mengawal dan memperbudak-budakan. Tetapi sekadar ingin mengingatkan bahawa kebakaran yang memusnahkan selalunya berpunca hanya daripada percikan api!
Di antara kita adalah Allah. DIAlah zat yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Adil. Manusia tidak akan dapat mengawal dan memantau manusia lain setiap masa dan ketika. Kini aku pasrah kepada Allah. Aku lelah dan kalah untuk meneliti dan memeriksa di seluruh penjuru. Aku tidak dapat mengawal hati mu dan kau juga tidak dapat mengawal hatiku.
Hati kita berdua, Allahlah yang menjadi pemantaunya. Menyedari hakikat ini, aku kini hanya fokus untuk memperbaiki diri. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Allah dan memperbaiki hubunganku dengan sesama manusia. Aku yakin Allah tidak akan mengecewakanku. Dan aku juga yakin Allah akan terus memberi kebaikan-Nya kepadaku melalui dirimu.
Marilah sama-sama kita perbaiki diri kita atas keyakinan rumah tangga ini perlu terus diselamatkan dan dimeriahkan. Jika benar itu masih menjadi harapan dan keyakinan kita, insya-Allah, pasti Allah akan tunjukkan jalan-jalan-Nya. Dalam hidup ini kita tidak boleh dapat semua perkara dalam satu masa. Bila kita mendapat sesuatu, pasti pada masa yang sama kita akan kehilangan sesuatu yang lain. Jadi marilah sama-sama kita pastikan apa yang kita dapat lebih berharga dan lebih baik berbanding apa yang kita terpaksa lepaskan.
Oleh itu jika kita ingin mendapat rumah tangga yang bahagia, kita terpaksa belajar ‘melepaskan’ perkara-perkara lain. Rumah tangga kita adalah keutamaan. Ia amanah Allah, harapan kita dan anak-anak kita. Sebaliknya, segala kesukaan atau keseronokan kita yang lain mungkin terpaksa kita korbankan demi membina kebahagiaan ini.Inilah pengorbanan.
Tanpa pengorbanan tidak akan ada kebahagaiaan. Kita akan rela dan tega berkorban jika kita benar-benar inginkan rumah tangga ini berjaya. Jika tidak, kita terpaksalah mengorbankan rumah tangga ini… Apakah ini berbaloi? Tidakkah ini seperti kata pepatah, yang dikejar tak dapat, yang dikendong berciciran? Atau mendengar guruh di langit, air tempayan dicurahkan? tipuan dunia dan godaan nafsu ini sangat memberangsangkan. Syaitan sentiasa menghias bibit-bibit dosa-dosa dengan segala keindahan dan kecantikan. Sekali kita terjerumus, payah untuk bebas kembali. Selagi yang diburu tidak tercapai, selagi itulah kita lelah mengejarnya. Tetapi setelah kita mendapat, ada yang lain pula datang menggoda. Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada itulah yang kita risaukan. Kita akan lesu kerana asyik memburu.
Mengejar nafsu itu bagai mengejar bayang-bayang. Dilihat ada tetapi apabila digenggam ia hilang… di hujung percarian itu pasti ada lesu dan jemu. Kehendak nafsu tidak ada batas dan tidak pernah puas. Padahal kematian itu boleh datang tiba-tiba. Relakah kita tertipu mengejar fatamorgana hanya kerana dari jauh ia kelihatan umpama air yang tergenang?
          Aku mengingatkan diri ku dan diri mu kerana sayang. Aku selalu bertanya pada diri sendiri, relakah aku mengorbankan rumah tangga ini hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti? Aku terpaksa melepaskan salah satunya. Dan insya-Allah, buat selamanya aku lebih sanggup melepaskan apa dan sesiapa sahaja, asalkan jangan melepaskan kebahagiaan rumah tangga ku. Itulah yang ada di hatiku. Dan itulah jua yang aku harapkan, doakan ada dalam hati mu.
Jika dalam surat ini ada kesedihan… ia bukan kekecewaan tetapi itu hanya harapan. Jika dalam surat ini ada teguran… itu bukan kebencian tetapi itu hanya peringatan, buat ku dan buat mu jua. Namun, ku akui dalam surat ini terlalu banyak doa dan harapan. Doa ku hanya pada Ilahi. Dan harapan ku tetap untuk mu suami. Jika air mata itu berkesan, nescaya akan tulis surat ini dengan air mata. Bukan air mata kecewa tetapi air mata harapan…
Bayangkan semula harapan dan cita-cita kita seawal kita memutuskan untuk berkahwin dahulu. Saat indah itu telah berlalu tetapi keindahan itu akan menjelma semula dalam bentuk baru jika kita berusaha untuk merealisasikannya. Dalam perkahwinan yang baik, seorang lelaki dan wanita sentiasa mencari ruang dan peluang untuk memperbaiki dirinya demi orang yang disayanginya.
Dan sekalipun dalam perkahwinan yang paling bermasalah, penawar yang mujarab adalah kebenaran. Menyatakan kebenaran kepada pasangan adalah kaedah terbaik untuk membuktikan cinta adalah lebih utama daripada satu pendustaan!
Mohon berundur dulu. Pasangan yang bahagia bukanlah tidak pernah membuat kesilapan. Tetapi mereka tetap bahagia kerana mereka sentiasa belajar mengakui kesilapan itu dan belajar daripadanya… dan akhirnya melupakannya! Itulah aku kini. Ku akui kesilapan ku dan aku sedang memperbaikinya dan aku ingin melupakannya…
Suami ku, aku masih menaruh harapan. Dan aku ingin menjalini kehidupan ini dengan penuh kejujuran dan aku berjanji tidak akan membohongimu lagi,
I’m PROMES
THE END




Tidak ada komentar:

Posting Komentar